30 November 2013

Birnenkompott





Stup buah peer (Birnenkompott)

Bahan:
500 gr. buah peer
250ml Air
50 gr. gula
1 pak Vanillezucker
1 batang kayumanis
4 buah bunga cengkeh
  1. Kupas buah peer, potong menjadi 8 bagian, buang bijinya.
  2. Masak air masukkan gula dan vanillezucker, kayumanis dan cengkeh, masak hingga mendidih.
  3. Masukkan potongan buah peer, masak hingga buah peer menjadi lembut. Kemudian angkat.
  4. Kompott disajikan dingin, bisa tambah gula lagi bila kurang manis.









.













11 November 2013

Kolak Biji Salak




Bahan:
  • Ubi dan kentang kukus  (perbandingan 2 ubi : 1 kentang)
    aku pakai 10 biji kentang.
  • 4 SM Tepung sagu/maizena (agak lembek) - kalau mau kenyal sagunya 8-10 SM
  • Gula Jawa
  • Santan, dimasak hingga mendidih, beri sedikit garam dan daun pandan.
Caranya:
  1. Rebus dulu gula jawa dengan air untuk kuah kolak. Pisahkan.
  2. Kentang kupas kulitnya, lalu kukus hingga matang.
  3. Panas² ditumbuk sampai halus.  Biarkan hingga dingin.
  4. Setelah kentang halus beri tepung sagu atau tepung maizena, kira² sendiri jangan terlalu banyak.
  5. Lalu adonin seperti bikin onde, dan dipulung bulat² seperti onde
    atau dipulung memanjang lalu di potong bentuk serong seperti biji salak
  6. Masak air dalam panci hingga mendidih, cemplungkan potongan biji salak,
  7. Kalau sudah mengambang, angkat ..
  8. lalu dicemplungkan ke larutan gula jawa yang kita buat tadi.
  9. Disajikan dalam mangkok siram dengan santan.

26 May 2013

PERSIMMONS







Although there are many benefits of eating persimmon, but there are a few points that we must be aware of:

1. Persimmons Cannot Be Eaten On An Empty Stomach
Contains more tannin and pectin, in an empty stomach under the effect of gastric acid, lumps of various sizes will formed, if these lumps can  not reach the pyloric intestine, it will remain in the stomach to form gastric persimmon stone.  The stone original is as small as apricots and  persimmon seeds nu, but will tend to get larger if naturally expelled from the stomach, it will cause diospyrobezoar the digestive tract obstruction, resulting in upper abdominal pain, vomiting, and even vomiting blood and other symptoms. During surgery, persimmon stone as big as a fist was found in the stomach. If the's food in the stomach then the persimmon stone formation in the stomach can be avoided .

2. Persimmon Skin Should Not Be Eaten 
Some people feel that eating persimmon fruit together with the skin taste betten than just eating the flesh by itself.  Scientifically this is not advisable because the vast majority of persimmon tannin in concentrated in the skin. If eaten toegether with its skin the formation of gastric  persimmon stone is easier, especially when the astringent process is incomplete, as its skin contains more tannic acid.

3. Do not eat persimmon together with high-protein crabs, fish, shrimp and other foods 
In Chinese medicine, crab and persimmon are considered "cold foods", therefore they cannot be eaten together. From the perspective of modern  medicine, crab, fish and shrimp contains high level of protein and thus under the effect of the tannic acid, it is easy to solidified into blocks,  namely, stomach persimmon stone.

4. Diabetics Should Not Eat Persimmon 
Persimmon has 10.8%  sugars content, and most are simple pairs of sugar and simple sugars (sucrose, fructose, glucose is such), which can easily  be absorbed by our body after eating which may result in hyperglycemia. For diabetic people, especially those with poor glycemic control, it is even  more harmful.

5. Enough is enough 
The tannic acid in persimmon together with dietary calcium, zinc, magnesium, iron and other minerals form compounds that cannot be absorbed by the body so that these nutrients can not be used and therefore eating persimmons can easily lead to a lack of these minerals. And because there is  more sugar in persimmon, eating the same amount of pesimmon compared to apples or pears will make one fill full faster hence will affect one's  appetite, and reduce the intake of meals. Generally, with an empty stomach, it is advisable that not more than 200 grams of persimmon should be taken.

6. Mouthwash after eating 
Persimmon has is high in sugar and contains pectin. After eating persimmon there will be some of the fruits remaining in the mouth, especially  in between the teeth. With
the acidic properties of the high tannic acid it is easy to cause tooth decay, the formation of dental caries. Therefore  after eating persimmons it is advisable to drink some water or to rinse our mouths.


23 April 2013


Dr. Tan Shoat Yen: “Obat BUKAN JAWABAN”

Ia mendidik pasiennya agar mengubah gaya hidup, tak tergantung pada obat dan tidak dibohongin dokter. Prinsipnya, pasien harus punya otonomi terhadap tubuh sendiri.

Cobalah berkunjung ke klinik dr. Tan Shot Yen diwilayah Bumi Serpong Damai pada pukul 11 dihari kerja. Anda akan melihat dr. Tan menghadapi beberapa pasien. Sekilas, Anda mungkin berpikir dokter sedang marah-marah. Padahal ia sedang menjelaskan tentang gaya hidup sehat pada pasien barunya. Pasalnya, memang begitu gaya dr. Tan, menjelaskan dengan suara keras. Bila kita simak ucapannya, semua yang dijelaskannya sangat penting dan membukakan mata.

“Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu ‘bagaimana’. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda Cuma tanya ‘bagaimana’, Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?” urainya.

Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya. “Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda.” Wah, dokter yang satu ini tampaknya memang lain dari yang lain.

Mendorong Gaya Hidup Sehat
Perbedaan mencolok dr. Tan dibanding dokter lain pada umumnya adalah ia tidak mudah memberi obat. Rata-rata pasien yang keluar dari ruang prakteknya tidak menggenggam resep. Kalaupun ada resep, biasanya hanya vaitamin dan omega-3, tergantung kondisi pasien.

“Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya ‘sakit apa’ lalu berkata ‘ini obatnya’? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskanasal usul penyakit. Pasien juga bego, padahal dia harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya,” jelas dr. Tan.

Sebagai ganti resep, dr. Tan memberikan pencerahan tentang gaya hidup sehat yang harus dijalani setiap orang. „Saya yakin semua dokter tahu bahwa diabetes, stroke, dan kanker adalah penyakit gaya hidup. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh seorang dokter mau fight untuk memperbaiki gaya hidup pasiennya? Karena, penanganan pertama pasien seharusnya perubahan gaya hidup. Bila gagal, baru obat-obatan boleh dicoba.”

Dr. Tan mencontohkan, pasien yang sakit lutut akan disuruh minum obat, dioperasi, atau diganti tempurung lututnya. Padahal, titik beratnya adalah bobot tubuhnya. Jika si Pasien mengubah pola makan dan gaya hidup, berat badannya susut dan keluhan lututnya akan hilang. “Ibaratnya, mobil Mercedes pasti turun mesin kalau diisi bensin bajaj. Coba ganti dengan bensin super, pasti larinya kencang.”

Perubahan pola makan yang dianjurkan dr. Tan mungkin terdengar ekstrem. Ia mengimbau pasiennya untuk berhenti mengonsumsi gula, terigu, nasi, dan pati (singkong, kentang, ubi, jagung, taloas). Pasalnya, di dalam tubuh, jenis makanan ini akan diproses 100% menjadi gula dalam waktu dua jam. Benar, manusia butuh gula untuk energi. Tapi kenaikan kadar gula darah akibat empat jenis makanan ini sangat cepat, mengakibatkan insulin melonjak untuk menekan kenaikannya. Bersama insulin, keluar pula hormon eicosanoid buruk. Akibatnya, pembuluh darah menyempit, darah kental, daya tahan buruk, tubuh ‘memelihara’ bakteri, jamur, kista, tumor, dan kanker, serta timbul nyeri.

Sebagai ganti nasi, ia meresepkan: satu ikat selada mentah atau dua cangkir brokoli setengah matang, 2 putih telur rebus, 2 tomat, 2 mentimun, setengah avokad, apel, atau pear. Dengan makanan ini, tak ada sisa gula yang tersimpan menjadi lemak. Kadar gula darah sebelum dan sesudah makan pun rata-rata sama. Dan, hormon eicosanoid buruk takkan keluar sehingga tak mengundang penyakit. ‘Menu’ ini perlu dilengkapi lauk-pauk yang diolah dengan berbagai cara, asal tidak ditumis atau digoreng.

“Kita makan sayur bukan hanya demi seratnya. Sayur mentah mengandung enzim dengan life force energy yang penting buat tubuh. Inilah pola makan asal yang sesuai fitrah manusia. Siapa bilang tidak makan nasi jadi lemas? Nenek moyang kita makan sayur dan buah tapi mereka kuat mendaki gunung danm berburu.”

Sakit adalah Introspeksi

Hal lain yang menarik dari dr. Tan adalah gelar M. Hum. Gelar itu didapat setelah ia mengambil pascasarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, tahun lalu. Menurutnya, kuliah S2 filsafat membuatnya memahami manusia secara mendalam dan holistic. Ia juga jadi mengerti ‘dosa ilmu kedokteran’ tentang mekanisasi tubuh manusia.

“Akibat perkembangan ilmu kedokteran — terutama seteloah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi kebengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang b eberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar,” tuturnya lugas.

Dr. Tan juga menyanyangkan bila manusia zaman sekarang mati-matian melawan dan menolak sakit. Padahal, sakiat adalah jalan untuk lebih memahami bahwa manusia atak selamanya diposisi atas.

“Sakit adalah introspeksi. Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh kebelakang. Apa yang ‘jalan’ dan ‘nggak jalan’ selama ini? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Tapi bagaimana pasien bisa introspeksi bila tak dibimbing menemukan kesembuhannya dan hanya dininabobokan oleh obat? Dunia yang mati rasa dan tak mau mengalami sakit adalah dunia yang melarikan diri, mengingkari diri sendiri,” lanjutnya.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang tak perlu demi obat. Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi kep-erluan berobat salah satu anggota keluarga.

Selalu Ingin Jadi Dokter

Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Sebagai siswi yang selalu mendapat nilai cemerlang dalam ilmu eksakta, menjadi dokter merupakan impiannya sejak dulu. Baginya, dibidang kedokteran, cara pikirnya yang eksakta bisa menemukan ‘kemanusiaannya’. Dalam diri pasien, ia menemukan benang merah antara fisik, emosi dan spiritual.

Ketika baru menjadi dokter, saya juga ngaco. Sekadar memberi obat pada pasien. Lama-lama saya pikir saya cuma perpanjangan pabrik obat,” kenangnya. Lalu ia pelan-pelan lebih menggunakan gaya hidup sehat. Perubahan ini dipicu oleh ayahnya, dr. Tan Tjiauw Liat, tokoh inspiratif yang membuatnya maju untuk melihat apa sebenarnya kebutuhan manusia.

Melihat begitu berapi-apinya dr. Tan saat memberikan p-encerahan gaya hidup pada pasien, siapapun mungkin akan b ertanya ‘apa tidak capek?’. “Lebih capek mana dibandingkan dokter yang ditunggangi perusahaan obat dan makanan? Saya mendapat energi bila melihat pasien sembuh. Mereka memegang kendali atas hidup mereka, tidak dibohongin dokter, dan tidak tergantung obat,” jawabnya.

Dr. Tan mengakui, sepak terjangnya kerap dipandang sebelah mata oleh koleganya. “Ada yang bilang saya idealis, bahkan mission impossible. Tapi saya yakin, dalam hati kecil mereka mengatakan bahwa perubahan gaya hiduplah jawabannya. Masalahnya, mereka sendiri tidak menjalani gaya hidup itu. Ini membuat saya sebal. Kalau mereka merasa tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, jangan mengecilkan pasien dengan menganggap pasien juga takkan bisa. Pasien yang sudah parah dikasih obat apapun pasti mau. Apalagi Cuma disuruh Apalagi Cuma disuruh ganti nasi dengan sayur.”

Keluarga terpengaruh
Pola makan asal yang meniadakan gula, trigu, nasi, pati dan susu yang dijalani dr. Tan juga dilakukan oleh suami — Henry Remanleh — dan anak tunggalnya, Cilla. Menurut dr. Tan, mereka tidak menjalaninya karena terpaksa, tapi karena merasakan manfaatnya. “Putri saya 17 tahun, kadang terpengaruh pola makan temannya. Dia lalu mengeluh susah konsentrasi atau pencernaannya terganggu. Setelah itu dia back on track. Dia sudah meengonsumsi raw food sejak SMP atas pilihan sendiri. Anak itu mencontoh orang tuanya. Jangan harap anak makan dengan baik kalau Anda sendiri amburadul.”

Suaminya, Henry, adalah kinesiologis yang berkutat dengan masalah gerak dan pengaruhnya terhadap aspek kehidupan manusia. Henry juga instruktur brain gym. Ia berpraktek didtempat yang sama. Dr. Tan sangat menghargai pekerjaan suaminya karena memberdayakan masyarakat. “Brain gym terbukti bisa meningkatkan konsentrasi. Dengan pola makan sehat sejak kecil dan gerakan olahraga terstruktur, Anda tak perlu lagi minum obat,” katanyaa tegas.

Selain sibuk berpraktik dan menjadi pembicara talkshow, dr. Tan menjadi contributor untuk taboid dan majalah kesehatan. Selain itu, ia mengisi waktunya dengan membaca dan membuka jalur continuing medical education melalui internet. Karena itu, info dan data jurnal ilmiahnya selalu up to date — disamping buku-buku terbaru pemberian ayahnya.

Ia menjalani pilates, terkadang berenang, dan sesekali bermain piano. Kini ia sedang mengumpulkan kisah-kisah kamar paraktek untuk dijadikan tulisan imnspiratif agar para dokter memandang pasien lebih dari sekumpulan diagnosis.

Wah, sepertinya semangat dalam tubuh mungil ini seolah melonjak-lonjak dan tak pernah padam. Maju terus dr. Tan!

Sumber: Media Indonesia

25 October 2012

Juice Buah 7 Rasa










Resep untuk 2 orang :
1 buah pisang
1 buah Sharon
1 buah Plum
1 buah Kiwi
1 buah Peer
1 potong pepaya dipotong memutar (kira2 setebal 4 cm)
1 buah Orange (sebagai pengencer)

Hmm... rasanya tak terkatakan! :-)


19 October 2012

ONIONS



ONIONS!
I had never heard this!!!
PLEASE READ TO THE END: IMPORTANT
 


In 1919 when the flu killed 40 million people there was this Doctor that visited the many farmers to see if he could help them combat the flu...
Many of the farmers and their families had contracted it and many died.

The doctor came upon this one farmer and to his surprise, everyone was very healthy. When the doctor asked what the farmer was doing that was different the wife replied that she had placed an unpeeled onion in a dish in the rooms of the home, (probably only two rooms back then). The doctor couldn't believe it and asked if he could have one of the onions and place it under the microscope. She gave him one and when he did this, he did find the flu virus in the onion. It obviously absorbed the bacteria, therefore, keeping the family healthy.

Now, I heard this story from my hairdresser. She said that several years ago, many of her employees were coming down with the flu, and so were many of her customers. The next year she placed several bowls with onions around in her shop. To her surprise, none of her staff got sick. It must work. Try it and see what happens. We did it last year and we never got the flu.

Now there is a P. S. to this for I sent it to a friend in Oregon who regularly contributes material to me on health issues. She replied with this most interesting experience about onions:

Thanks for the reminder. I don't know about the farmer's story...but, I do know that I contacted pneumonia, and, needless to say, I was very ill... I came across an article that said to cut both ends off an onion put it into an empty jar, and place the jar next to the sick patient at night. It said the onion would be black in the morning from the germs...sure enough it happened just like that...the onion was a mess and I began to feel better.

Another thing I read in the article was that onions and garlic placed around the room saved many from the black plague years ago. They have powerful antibacterial, antiseptic properties.

This is the other note. Lots of times when we have stomach problems we don't know what to blame. Maybe it's the onions that are to blame. Onions absorb bacteria is the reason they are so good at preventing us from getting colds and flu and is the very reason we shouldn't eat an onion that has been sitting for a time after it has been cut open.

LEFT OVER ONIONS ARE POISONOUS

I had the wonderful privilege of touring Mullins Food Products, Makers of mayonnaise. Questions about food poisoning came up, and I wanted to share what I learned from a chemist.

Ed, who was our tour guide, is a food chemistry whiz. During the tour, someone asked if we really needed to worry about mayonnaise. People are always worried that mayonnaise will spoil. Ed's answer will surprise you. Ed said that all commercially-made mayo is completely safe.

"It doesn't even have to be refrigerated. No harm in refrigerating it, but it's not really necessary." He explained that the pH in mayonnaise is set at a point that bacteria could not survive in that environment. He then talked about the summer picnic, with the bowl of potato salad sitting on the table, and how everyone blames the mayonnaise when someone gets sick.

Ed says that, when food poisoning is reported, the first thing the officials look for is when the 'victim' last ate ONIONS and where those onions came from (in the potato salad?). Ed says it's not the mayonnaise (as long as it's not homemade mayo) that spoils in the outdoors. It's probably the ONIONS, and if not the onions, it's the POTATOES.

He explained onions are a huge magnet for bacteria, especially uncooked onions. You should never plan to keep a portion of a sliced onion.. He says it's not even safe if you put it in a zip-lock bag and put it in your refrigerator.

It's already contaminated enough just by being cut open and out for a bit, that it can be a danger to you (and doubly watch out for those onions you put in your hotdogs at the baseball park!). Ed says if you take the leftover onion and cook it like crazy you'll probably be okay, but if you slice that leftover onion and put on your sandwich, you're asking for trouble. Both the onions and the moist potato in a potato salad, will attract and grow bacteria faster than any commercial mayonnaise will even begin to break down.

Also, dogs should never eat onions. Their stomachs cannot metabolize onions.

Please remember it is dangerous to cut an onion and try to use it to cook the next day, it becomes highly poisonous for even a single night and creates toxic bacteria which may cause adverse stomach infections because of excess bile secretions and even food poisoning.

Please pass this on to all you love and care about.

15 October 2012

Tips : Merebus Daun Singkong




Cara alami merebus daun singkong agar hasilnya lebih hijau dan lebih (cepat) empuk adalah dengan merebus daun singkong dalam air seperlunya menggunakan panci terbuka. Dengan dibuka, asam yang terbentuk selama perebusan akan "terbang", tidak lagi bercampur dengan air perebus. Kalaupun ada nutrisi yang hilang menguap, umumnya hanya vitamin seperti vitamin B - yang justru bukan menjadi kandungan utama daun singkong.

Untuk mempercepat pengempukan daun singkong rebus, kita bisa meniru cara yang aman yang dilakukan oleh nenek kita dulu. Misalnya dengan memasukkan beberapa sendok makan atau garpu ke dalam rebusan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan suhu air perebus.
TIDAK DIANJURKAN untuk
menambahkan soda kue ke dalam rebusan daun singkong seperti yang sering dilakukan masyarakat dengan tujuan [1] menjadikan warna daun singkong lebih hijau, dan [2] daun singkong lebih (cepat) empuk.

KARENA :
Kondisi alkalin tinggi akan merusak jaringan daun singkong, yakni kandungan serat kasar dan pektin (jenis serat larut), sehingga teksturnya menjadi lebih (cepat) empuk. Bersamaan dengan itu, klorofilnya pun ikut terurai, sehingga warnanya menjadi lebih hijau. Dengan kata lain, daun singkong rebus empuk yang kita nikmati itu kualitas serat dan pigmen antioksidannya sudah sangat berkurang. Kemungkinan banyak mineralnya pun ikut terbuang bersama air perebusnya, terutama zat besi dan kalsium - yang kandungannya cukup tinggi dalam daun singkong.

.

11 October 2012

Tip Membuat Garlic Spaghetti

Mau makan siang ....
Kulkas kosong, tidak usah bingung!
Asal ada bawang putih dan daun peterseli dan spaghetti.
cukuplah sudah ! :-)
Makan siang yang sederhana dan nikmat.
Membuatnya gampang tidak repot.
Pasta yang paling sederhana dan sehat.
Favoritku ! :-)  

Spaghetti Aglio e Olio



.

Tip Membuat Sendiri "Tzatziki"


4 October 2012

Tip membuat sendiri Bumbu Penyedap Masakan

Kita tahu bahwa Glutamat (misalnya Ajinomoto dan bumbu penyedap lainnya) kurang baik bagi kesehatan, karena mengandung zat yang dapat membahayakan kesehatan bila dikonsumsi secara terus menerus.

Sebagai pengganti rasa glutamat, kita dapat membuat sendiri bumbu penyedap masakan, dengan cara yang sederhana namun sangat aman dan sehat. Bumbu Penyedap Masakan buatan sendiri ini akan mengeluarkan aroma alami bila kita bubuhkan pada masakan sup ayam dan masakan lainnya.

Bahan² yang dibutuhkan:
- 1 buah bongkol seledri
- 2 tangkai Lauch (daun bawang besar)
- 4 buah tomat
- 3 buah bawang bombai
- 5 buah wortel
- 1 ikat Peterselie keriting
- sedikit garam

Caranya:
1) Semua bahan diatas dipotong kecil-kecil.
2) Lalu blender semua sampai halus.
3) Tuang kedalam backform.
4) Masukkan backform ke dalam backoven.
5) Keringkan selama 8 jam dengan temperatur panas 75°C.
6) Setelah kering, keluarkan. 
7) Tumbuk hingga halus menjadi bubuk.
8) Simpan dalam botol yang bersih.

Bubuk sudah siap dipakai sebagai bumbu penyedap masakan.

Selamat mencoba!


Sekarang kita semakin tahu dan sadar bahwa
GLUTAMAT adalah racun  .. yang sedap!



19 September 2012

Arthrose (Arthritis)

... so helfen Sie sich selbst.

Penyakit Arthritis (bila jari-jari tangan sakit ditekuk, ada sedikit bengkak) makanan dibawah ini baik untuk dikonsumsi:

- IKAN (terutama ikan Makrele (tongkol), Lachs (Salmon), Hering) karena ikan ini mengandung Omega 3 - Fettsäuren.

- Olesi dengan cream : Dolgit Creme atau Ibutop creme (zum Einreiben).

- Bedarf an Kalzium und Vitamin C, E, Bi, B6 dan B12
- Makan buah-buahan
- Perlu konsumsi Keju, Vollkorn-Produkte
- Kurangi makan Daging Merah (Sapi) + daging Babi
- Perbanyak makan daging IKAN dan AYAM
- regelmäßig Bierhefepulver über Ihr Mittagessen streuen
- oder Bierhefe als Kapseln nehmen.
- SPORT : Walking, Schwimmen, Aquajogging, Gymnastik, Radfahren.
*****



Catatan Singkat / Tips






Membuat Rote Grütze
===================
Bahannya:
- Buah Kirchen (gefroren juga boleh),
- Orangesaft,
- Karamel (Zucker + Wasser),
- Tepung Mondamin,
- Zimt, Zucker, Zitronen.

Caranya:
1) Mula² buat karamel, masak air dengan gula,
2) bila sudah kental, masukkan buah Kirchen, Orangesaft,
3) kemudian Mondamin (sudah dicairkan dulu), Zimt.
4) Aduk-aduk terus hingga mendidih, kemudian angkat.

Dimakan dengan Vanille Soße.
*




Membuat bunte Gemüse
====================
Bahannya:
- Paprika merah potong kotak-kotak,
- Brokoli + Blumenkohl dimasak dulu.
- Zwiebel dicacah atau iris tipis2,
- Knoblauch, Sahne, Mehl,
- Curry, Kokkiman, Gemüsebrühe.

Caranya:
Masukkan ke dalam kuali berikut ini :
1) Zwiebel, Knoblauch, Paprika, Kikkoman,
2) Mehl sedikit (sudah dicairkan), lalu aduk-aduk.
3) Bubuhkan Salt, Curry, Sahne.
4) Masukkan Brokoli, Gemüsebrühe.
5) Terakhir masukkan Blumenkohl.
6) Tambahkan bumbu Gemüsebrühe (boleh abaikan)








Membuat adonan Teig  (STANDARD)
==============================
(auch für Brötchen)

Caranya:
1) Garam, Zucker, Hefe beri lauwarmes Wasser, diaduk-aduk.
2) Lalu masukkan Mehl. Diadonin,
3) kasih minyak sedikit supaya tidak lengket,
4) lalu diamkan sebentar,
5) tutup dengan plastik tipis hingga adonan mengembang.









































Kartoffel backen
============
Bahan:
- Kentang,
- Kräuter de Provience,
- Öl, Zucker.

Caranya:
1) Kentang dikupas, (kalau besar ukurannya dibelah jadi 4)
2) Beri minyak dan Kräuter lalu aduk-aduk sampai rata.
3) Taruh di gelar di atas Backform, taburi garam secukupnya.
4) Masukkan Backoven 180°C hingga kekuningan.
5) Angkat dan dinginkan.







Membuat Obstsalat
==============
Bahan:
- Orangesaft 1 Dose,
- Apfel potong kotak2 kecil,
- Kiwi, Nektarin, Manggo, Banana,
- Orange buang kulitnya, potong persegi kecil.
- Sedikit gula (boleh diabaikan).

Caranya:
1) Semua bahan dicampur dalam bowl besar,
2) aduk sampai rata.




 


Membuat Gemüsesuppe
===================
Bahan:
- Zwiebel dirajang halus.
- 1 x gefrorene Gemüse.
- Knoblauch sedikit.
- Curry. Mehl sedikit.
- Pfeffer, Salz, Zitronen.

Caranya:
1) Tumis dulu Zwiebel dengan Butter.
2) Masukkan gefrorene Gemüse, aduk.
3) Kemudian masukkan semua bumbu diatas.






Bila terpaksa harus beli Pommes Frites, pilihlah yang Test gut.
Pommes Frites (Test gut):
"Original Austrian Potato Princess Frites"
www.eichborn.de (Rezepte über Kartoffeln)







Merebus Spargel (Asparagus):

Caranya:
1) siapkan Panci berisi Air + Butter + Gula + Garam.
2) masukkan Spargel.

Saucenya : Rahmsöße
Disajikan dengan Schinken atau Kasseler.

Caranya:
1) Sedikit Butter in die Pfanne geben.
2) Masukkan Kasseler bolak balik sebentar.
3) Lalu masukkan Rahmsoße yang sudah diberi air secukupnya.
4) Masak dengan api kecil hingga mendidih.

(Rezept dari Tantenya Verena).


Catatan

Dip untuk masakan Ikan:
======================

Joghurt, Quark, Zitrone, Senf, Knoblauch, Öl, Paprika, Salz, Pfeffer, semua dicampur menjadi satu di dalam sebuah bowl besar. Aduk perlahan hingga tercampur rata. Terakhir taburi daun Petersilie yang dicincang halus.

Salatnya:
Eisbergsalat + Tomaten + Gurken diberi Salz, Pfeffer, Essig + Zitronen.
Semua diaduk dan segera di sajikan.

*************